|
Rabu(10/12) diselenggarakan seminar publik di Auditorium Nurkholis Madjid, Universitas Paramadina. Acara ini diselenggarakan oleh SEA Peace Lab, yakni sebuah badan kerjasama antara Universitas Paramadina dengan program hpcr dari Universitas Harvard Amerika Serikat. Acara ini dibuka oleh rektor Paramadina yakni Anies Baswedan. Acra ini bertema “peran media dalam konflik di Indonesia”. Keynote dalam ascara ini tidak tanggung-tanggung adalah Menteri pertahanan RI Juwono Sudarsono. Acara diteruskan dengan talkshow bersama empat narasumber yakni Prof. Claude B (dosen Harvard dan juga presiden HPCR Internasional) lalu mas Dimas, (dari the jakarta pos), mas Bima Arya S(dosen HI Paramadina), dan Bang Saur Hutabarat(direktur harian Media Indonesia).
Dalam pidatonya Anis B, menerangkan bahwa sekarang ini sudah saatnya kita mempelajari kearifan-kearifan lokal yang ada di negeri ini. Sebenarnya kita punya banyak budaya-budaya yang seharusnya bisa kita ambil pelajarannya, dan bahkan kita ekpor pelajaran tersebut. Jadi sudah saatnya kita beralih dari mengimpor ajaran-ajaran dari luar ke mengekpor ajaran-ajaran likal kita sendiri. Namun, tambah anies, kita harus terlebih dahulu menerjemahkan itu dalam bahasa sains agar bersifat universal, semua orang di bumi ini bisa paham dan menerima. Inilah yang akan mengubah persepsi kita mengenai negara kita yang hampa akan prestasi sementara orang luar negeri sangat bersimpati pada negeri ini. Jangan lupa kita ini punya ratusan suku, sehingga bersatunya Indonesia sampai sekaraqng adalah prestsi yang sangat membanggakan.
Pancasila: pilihan yang tepat
Sebagai keynote, Juwono menyampaikan bahwa pendiri Indonesia telah tepat memilih Pancasila sebagai dasar negara. Kalau melihat mayoritas pendduduk agaknya ini tidak adil karena sebagian besar penduduk indonesia adalah muslim. Namun, pertimbangan saat itu bukanlah masalah mayoritas, tetapi lebih pada history dari Indonesia yang kaya akan budaya dan etnis. Perlu adnya integrasi antara lima hak asasi manusia di negeri ini: hak sipil, hak politik, hak ekonomi, hak sosial, dan hak kultur. Hal ini akan menciptakan kesatuan seluruh suku bangsa ini ke dalam satu main stream. Bersatu dalam berjalan membangun negeri ini. Pada akhirnya, menurut juwono,tetap bersatunya RI sampai saat ini adalah berkat ‘benarnya’dasar yang diambil oleh pendiri bangsa ini yakni pancasila yang tidak memihak pada SARA manapun.
Namun, pada sela-sela pidatonya, beliau menyampaikan masih adnya ketimpangan sosial yang terjadi. 85% roda pembanguna ada di wilayah barat, sementara sisanya di timur. Di samaping itu empat propinsi terkaya sumber daya alamnya, yakni Aceh, Riau, Kaltim, dan Papua, penduduknya masih berada di bawah garis kemiskinan. Pendapatan perkapita mereka kurang dari 2 dolar.
Peran media dalam konflik
Menurut Prof, Claude, sekarang di dunia muncul tren penggunaan madia yang beralih dari media konvensional( TV, radio) ke media yang lebih maju dan canggih yakni internet. Hal ini merupakan pilihan yang tepat. Terbukti terpilih nya Presiden AS Barak Obama karena kesuksesannya menggunakan media ini.
Media bisa mengarahkan perhatian publik dan juga memobilisasi masyarakat dalam situasi tertentu. Dengan ini seharusnya media bisa menjadi sebuah alat pembangun kedamaian, bukan konflik. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa berita-berita saat ini malah cenderung menjadi provokator konflik. Menurut beliau hal ini disebabkan peran media memang menjadi alat untuk mempengaruhi dan memanipulasi. Sehingga bila penggunaannya tidak tepat, akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Media juga merupakan sesuatu yang penting dalam transformasi kedamaian. Media pun juga membuat segala informasi menjadi sangat accessful. Sementara itu media harus tetap punya critical value, disamping tetap fasilitating the peace.
Secara terpisah, Mas Dimas mengatakan konsep 5 W 1 H ,yang sekarang dianut oleh setiap tulisan berita, harus ditambah C+S (communality and solution). Namun hal ini tetap belum bisa menciptakan berita yang purely netral. Pasti ada keberpihakan, meski sedikit. Hal ini menurut Mas Bima adalah karena faktor internal dari penulis berita itu sendiri.
Sementara itu, Mas Bima menyampaikan bahwa akar masalah media saat ini adalah who owns the media. Saat masa perjuangan, media menjadi pemersatu bangsa ini, sementara pada saat orde lama, semua berubah. Media berubah menjadi tunggangan partai-partai politik, dan pada saat orde baru, media menjadi alat pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan saat itu. Lalu siapa yang memiliki media saat zaman reformasi ini?
Saat ini sebua media dituntut untuk punya keseimbangan antara bertindak sebuah korporasi yang tentunya profit oriented dan kapitalistik, dengan bertindak sebagai institusi dan sosial yang harus menyediakan keakuratan informasi. Di smping itu, tambah Bima, sekarang media pun juga terlibat kepentingan politik yang tentunya akan semakin sulit untuk menjaga keseimbangan tadi. Jadi sekarang ini, menurut saya, media adalah institusi yang bebas dan bukan milik siapa-siapa lagi.media punya kbebasan untuk menentukan ke arah mana ia berjalan.
Sekarang ini fenomena yang muncul adalah bukannya keakuratan informasi yang ditampilkan oleh sebuah media, tetapi siapa dahulu yang bisa mengekspos informasi tersebut. Sementara klarifikasi akan dilakukan kemudian. Hal ini sungguh sangat ironis karena tidak setiap orang punya alokasi waktu untuk melihat berita secara penuh dan sama. Bagaiman jadinya kalau mereka hanya melihat sebuah informasi hanya sepotong-sepotong. Yang ada adalah kecenderungan menuju konflik yang semakin nyata.
Di sisi lain Saur membahas mengenai konflik yang ada di negeri ini. Sebenarnya, menurut beliau, konflik yang terjadi bukanlah di masyarakat. Konflik-konflik yang muncul adalah bersumber dari kalangan elite. Sementara berbicara mengenai berita yang damai, Saur menyatakan harus ada perubahan mengenai apa yang diliput. Konflik-konflik yang terjadi jangan dipandang pada maslah SARA-nya. Yang harus diliput adalah korbannya karena dalam hal ini, korban tidak mengenal asal-usul. Entah itu dari satu etnik atau dari agama tertentu. Penambahan atribut-atibut SARA harus dibersihkan. Menurut Saur, penyebab pemberitaan media yang tidak akurat adalah karena tiga hal. Pertama, jurnalistik Indonesia tidak pinya pengalaman dalam meliput SARA. Hal ini merupakan warisan orde baru. Kedua, media-media Indonesia tidak punya wartawan tyang memang berasal dari daerah-daerah yang terkena konflik. Ketiga, tidak adanya wartawan yang punya pengetahuan lokal yang kuat. Pada akhirnya, informasi yang disampaikan bisa menimbulakn kebiasan dan buisa menimbulkan konnflik yang lebih parah.
Selanjutnya, menanggapi fakta seperti itu, sudah selayaknya para penikmat media mulai mem-filter setiap berita yang muncul. Jangan terburu-buru bereaksi. Sekali lagi informasi-informasi yang muncul di media harus kita sikapi dengan bijak dan selektif.
Dalam pidatonya Anis B, menerangkan bahwa sekarang ini sudah saatnya kita mempelajari kearifan-kearifan lokal yang ada di negeri ini. Sebenarnya kita punya banyak budaya-budaya yang seharusnya bisa kita ambil pelajarannya, dan bahkan kita ekpor pelajaran tersebut. Jadi sudah saatnya kita beralih dari mengimpor ajaran-ajaran dari luar ke mengekpor ajaran-ajaran likal kita sendiri. Namun, tambah anies, kita harus terlebih dahulu menerjemahkan itu dalam bahasa sains agar bersifat universal, semua orang di bumi ini bisa paham dan menerima. Inilah yang akan mengubah persepsi kita mengenai negara kita yang hampa akan prestasi sementara orang luar negeri sangat bersimpati pada negeri ini. Jangan lupa kita ini punya ratusan suku, sehingga bersatunya Indonesia sampai sekaraqng adalah prestsi yang sangat membanggakan.
Pancasila: pilihan yang tepat
Sebagai keynote, Juwono menyampaikan bahwa pendiri Indonesia telah tepat memilih Pancasila sebagai dasar negara. Kalau melihat mayoritas pendduduk agaknya ini tidak adil karena sebagian besar penduduk indonesia adalah muslim. Namun, pertimbangan saat itu bukanlah masalah mayoritas, tetapi lebih pada history dari Indonesia yang kaya akan budaya dan etnis. Perlu adnya integrasi antara lima hak asasi manusia di negeri ini: hak sipil, hak politik, hak ekonomi, hak sosial, dan hak kultur. Hal ini akan menciptakan kesatuan seluruh suku bangsa ini ke dalam satu main stream. Bersatu dalam berjalan membangun negeri ini. Pada akhirnya, menurut juwono,tetap bersatunya RI sampai saat ini adalah berkat ‘benarnya’dasar yang diambil oleh pendiri bangsa ini yakni pancasila yang tidak memihak pada SARA manapun.
Namun, pada sela-sela pidatonya, beliau menyampaikan masih adnya ketimpangan sosial yang terjadi. 85% roda pembanguna ada di wilayah barat, sementara sisanya di timur. Di samaping itu empat propinsi terkaya sumber daya alamnya, yakni Aceh, Riau, Kaltim, dan Papua, penduduknya masih berada di bawah garis kemiskinan. Pendapatan perkapita mereka kurang dari 2 dolar.
Peran media dalam konflik
Menurut Prof, Claude, sekarang di dunia muncul tren penggunaan madia yang beralih dari media konvensional( TV, radio) ke media yang lebih maju dan canggih yakni internet. Hal ini merupakan pilihan yang tepat. Terbukti terpilih nya Presiden AS Barak Obama karena kesuksesannya menggunakan media ini.
Media bisa mengarahkan perhatian publik dan juga memobilisasi masyarakat dalam situasi tertentu. Dengan ini seharusnya media bisa menjadi sebuah alat pembangun kedamaian, bukan konflik. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa berita-berita saat ini malah cenderung menjadi provokator konflik. Menurut beliau hal ini disebabkan peran media memang menjadi alat untuk mempengaruhi dan memanipulasi. Sehingga bila penggunaannya tidak tepat, akan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. Media juga merupakan sesuatu yang penting dalam transformasi kedamaian. Media pun juga membuat segala informasi menjadi sangat accessful. Sementara itu media harus tetap punya critical value, disamping tetap fasilitating the peace.
Secara terpisah, Mas Dimas mengatakan konsep 5 W 1 H ,yang sekarang dianut oleh setiap tulisan berita, harus ditambah C+S (communality and solution). Namun hal ini tetap belum bisa menciptakan berita yang purely netral. Pasti ada keberpihakan, meski sedikit. Hal ini menurut Mas Bima adalah karena faktor internal dari penulis berita itu sendiri.
Sementara itu, Mas Bima menyampaikan bahwa akar masalah media saat ini adalah who owns the media. Saat masa perjuangan, media menjadi pemersatu bangsa ini, sementara pada saat orde lama, semua berubah. Media berubah menjadi tunggangan partai-partai politik, dan pada saat orde baru, media menjadi alat pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan saat itu. Lalu siapa yang memiliki media saat zaman reformasi ini?
Saat ini sebua media dituntut untuk punya keseimbangan antara bertindak sebuah korporasi yang tentunya profit oriented dan kapitalistik, dengan bertindak sebagai institusi dan sosial yang harus menyediakan keakuratan informasi. Di smping itu, tambah Bima, sekarang media pun juga terlibat kepentingan politik yang tentunya akan semakin sulit untuk menjaga keseimbangan tadi. Jadi sekarang ini, menurut saya, media adalah institusi yang bebas dan bukan milik siapa-siapa lagi.media punya kbebasan untuk menentukan ke arah mana ia berjalan.
Sekarang ini fenomena yang muncul adalah bukannya keakuratan informasi yang ditampilkan oleh sebuah media, tetapi siapa dahulu yang bisa mengekspos informasi tersebut. Sementara klarifikasi akan dilakukan kemudian. Hal ini sungguh sangat ironis karena tidak setiap orang punya alokasi waktu untuk melihat berita secara penuh dan sama. Bagaiman jadinya kalau mereka hanya melihat sebuah informasi hanya sepotong-sepotong. Yang ada adalah kecenderungan menuju konflik yang semakin nyata.
Di sisi lain Saur membahas mengenai konflik yang ada di negeri ini. Sebenarnya, menurut beliau, konflik yang terjadi bukanlah di masyarakat. Konflik-konflik yang muncul adalah bersumber dari kalangan elite. Sementara berbicara mengenai berita yang damai, Saur menyatakan harus ada perubahan mengenai apa yang diliput. Konflik-konflik yang terjadi jangan dipandang pada maslah SARA-nya. Yang harus diliput adalah korbannya karena dalam hal ini, korban tidak mengenal asal-usul. Entah itu dari satu etnik atau dari agama tertentu. Penambahan atribut-atibut SARA harus dibersihkan. Menurut Saur, penyebab pemberitaan media yang tidak akurat adalah karena tiga hal. Pertama, jurnalistik Indonesia tidak pinya pengalaman dalam meliput SARA. Hal ini merupakan warisan orde baru. Kedua, media-media Indonesia tidak punya wartawan tyang memang berasal dari daerah-daerah yang terkena konflik. Ketiga, tidak adanya wartawan yang punya pengetahuan lokal yang kuat. Pada akhirnya, informasi yang disampaikan bisa menimbulakn kebiasan dan buisa menimbulkan konnflik yang lebih parah.
Selanjutnya, menanggapi fakta seperti itu, sudah selayaknya para penikmat media mulai mem-filter setiap berita yang muncul. Jangan terburu-buru bereaksi. Sekali lagi informasi-informasi yang muncul di media harus kita sikapi dengan bijak dan selektif.
Post a Comment